Search
Reservasi & Bantuan +62 811 6602 898 - +62 812 6602 898

Tradisi Bakajang

Tradisi bakajang

Tradisi Bakajang

Tradisi Bakajang – Tradisi Bakajang adalah salah satu kebudayaan dari Kanagarian gunung malintang Kecamatan Pangkalan. Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Alek Bakajang dilaksanakan empat hari setelah Hari Raya Idul Fitri selama lima hari berturut-turut, Bakajang merupakan tradisi menghias sampan dan pada hari terakhir akan dinilai siapa yang jadi pemenang.

Alek rakyat itu dihadiri oleh para niniak-mamak, alim ulama, cadiak-pandai, bundo-kanduang hingga pemuda parik paga nagari. Hari pertama pembukaan, dimulai dengan tradisi “Manjalang Mamak”, yang diikuti seluruh pemuda beserta anak nagari ke empat istano penghulu di limbago adat nagari setempat.
Mereka antara lain, Dt Paduko Rajo, Dt Sati, Dt Bandaro serta Dt Gindo Simarajo. Adapun terakhir, yang dikunjungi ialah kepala pemerintahan nagari dan alim-ulama. Dalam prosesinya, para pemuda anak nagari bersama bundo kanduang, membawa wejangan makanan yang dibawa menggunakan dulang.
Di aliran Batang Maek, sebanyak lima buah perahu sudah disulap para pemuda di empat Jorong menjadi kapal berkuran besar. Kapal-kapal tersebut dirancang berbagai bentuk, menyerupai kapal veri. Guna merangkai kapal-kapal itu, para pemuda menyebut, menghabiskan biaya hingga mencapai Rp12-15 juta perunitnya.
Ketua KAN Gunuang Malintang, Dt Paduko Rajo, mengatakan, Bakajang merupakan salah satu tradisi silaturrahmi yang dilakukan masyarakat Gunuangmalintang menggunakan perahu/sampan hias. Alek ini biasanya dilakukan setelah hari raya Idul Fitri, dengan tujuan meningkatkan silaturrahmi diantara anak kemenakan 4 suku di Batang Mahat.
Acara alek Tradisi Bakajang, merupakan warisan nenek moyang yang terus digalakkan masyarakat hingga sekarang. “Bakajang berarti ‘memperbaharui’. Dulu, pelaksanaan manjalang sanak saudaro ini, dilakukan memakai sampan atau perahu. Ini lah yang dilakukan para pendahulu, yang kini masih menjadi tradisi di nagari kami,” paparnya.
Adapun Batang Maek yang melintasi Nagari Gunuang malintang, lanjutnya, pada zaman dahulu merupakan salah satu akses alternatif yang digunakan masyarakat, mengingat pada waktu itu belum ada akses jalan sebagai jalur penghubung antara satu daerah ke daerah lain. “Biasanya, alek Bakajang digelar 5 hari, dimulai hari ke-4 Bulan Syawal,” tutur Dt Paduko Rajo.
About the Author

Leave a Reply

*