Search
Reservasi & Bantuan +62 811 6602 898 - +62 812 6602 898

Museum Kereta Api Sawahlunto

Museum Kereta Api Sawahlunto

Museum Kereta Api Sawahlunto

Museum Kereta Api Sawahlunto adalah museum stasiun kereta api di Sawahlunto yang termasuk ke dalam Divisi Regional 2 Sumatera Barat, dan merupakan salah satu stasiun terminus yang ada di Sumatera Barat. Museum ini terletak di kelurahan Pasar, kecamatan Lembah Segar, kota Sawahlunto. Pada tanggal 17 Desember 2005, Stasiun Sawahlunto diubah fungsinya menjadi museum, dan diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Muhammad Jusuf Kalla. Dengan demikian, Indonesia memiliki 2 museum kereta api, dengan yang pertama ada di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Museum ini memiliki koleksi berjumlah 106 buah yang terdiri dari gerbong (5 buah), lokomotif uap (1 buah), jam (2 buah), alat-alat sinyal atau komunikasi (34 buah), foto dokumentasi (34 buah), miniatur lokomotif (9 buah), brankas (3 buah), dongkrak rel (5 buah), label pabrik (3 buah), timbangan (3 buah), lonceng penjaga (1 buah), dan baterai lokomotif (2 buah).

Di masa lalu terjadi eksploitasi tambang batubara secara besar-besaran di Sawahlunto oleh pemerintah kolonial Belanda. Kereta api digunakan sebagai pengangkut batubara sampai ke Pelabuhan Teluk Bayur di Padang dengan menggunakan lokomotif uap. Pada abad ke-19, batubara merupakan bahan bakar penting untuk berbagai moda transportasi, termasuk kapal. Sementara kapal merupakan moda transportasi andalan untuk mengangkut rempah-rempah dan hasil bumi lain antarpulau dan benua pada masa itu. Setelah penemuan kandungan batubara yang mencapai 200 juta ton oleh WH de Greeve pada 1868, Belanda membangun permukiman dan fasilitas perusahaan tambang batubara Ombilin. Termasuk mengusahakan jalur pengangkutan batubara yang efektif, karena letak Sawahlunto berada di tengah perbukitan dan jauh dari pelabuhan internasional.

Jejak sejarah itu kini diabadikan dalam bentuk Museum Kereta api Sawahlunto yang akan mengajak pengunjung menembus waktu ke zaman pra kemerdekaan. Bangunan stasiun kereta api tersebut sekarang berubah fungsi menjadi museum. Museum kereta api Sawahlunto diresmikan pada 17 Desember 2005, merupakan museum kereta api kedua setelah Museum Kereta Api Ambarawa.

Sejak awal 2013, tak terdengar lagi suara jeritan Mak Itam. Kebocoran pada 12 pipa pembakaran disebut-sebut membuat Mak Itam tak mampu beroperasi lagi. Akhirnya ia diistirahatkan di salah satu ruangan penyimpanan museum. Disampingnya berjajar gerbong kayu membawa penumpang yang biasa ditarik Mak Itam. Tetapi pengunjung yang datang ke Museum Kereta Api Sawahlunto masih bisa melihat sosoknya. Jika bisa, Mak Itam mungkin akan bercerita banyak tentang sumbangsihnya selama hampir setengah abad di dunia perekeretaapian Indonesia.

About the Author

Leave a Reply

*