Search
Reservasi & Bantuan +62 811 6602 898 - +62 812 6602 898

Bukik Posuak

Bukik Posuak

Bukik Posuak

Bukik Posuak, Nagari Maek Kec. Bukik Barisan Kab. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat Sekarang bukit yang bolong itu dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan “Bukik Posuak” yang dalam bahasa Indonesia berarti Bukit Tembus/Bolong. Bukik Barisan juga dikenal sebagai suatu nagari yang dijuluki nagari seribu menhir.

Berdasarkan cerita warga di Nagari Maek, dahulu pernah ada seorang Raja yang berkuasa di Maek, bernama Bagindo Ali. Selain sebagai pemimpin negeri, Bagindo Ali juga memiliki hobi berburu rusa di hutan, dan keetulan ia cukup mahir memanah. Dalam setiap pergi berburu ke hutan, Sang Raja selalu didampingi para pengawalnya yang masing-masinya juga memiliki keahlian tersendiri, dan baru akan kembali pulang setelah mereka berhasil menangkap buruan.  Terkadang untuk mendapatkan buruan, rombongan pun harus bermalam selama berhari-hari di dalam hutan belantara. Setiap kali Sang Saja melepskan anak panah, berpantang tidak akan mengena. Maka, tidaklah mengherankan, begitu Badindo Ali sempat membidik sesuatu, para pengawal pun akan langsung berlari menuju sasaran tempat anak panah Sang Raja bersarang. Bangkai rusa dibopong dibawa pulang.

Namun suatu ketika, setelah sehari suntuk mengarungi hutan, rombongan belum juga menjumpai satu ekor rusa pun. Hingga membuat Bagindo Ali kala itu ikut geram, penasaran, kenapa dia dan anak buahnya sempat bernasib sial.  Dengan tetap penuh semangat, petualangan pada sore itu dilanjutkan sesuai intruksi Raja. Berkat gigih, gayung pun bersambut. Seekor rusa jantan besar sekilas terlihat melintas di sela-sela rerumpun ilalang, menuju sebuah tepian anak sungai yang mengalirkan air begitu jernih. Tanpa harus membuang waktu, Sang Raja yang kala itu ternyata ikut melihat targetnya, langsung membidik dan menarik tali busur, hinnga anak panahnya melesat secepat kilat. Beberapa orang pengawal seketika berlari menuju sasaran.

Akan tetapi, kali ini tembakan jitu Bagindo Ali meleset, hingga si rusa berhasil kabur. Spontan, Sang Raja langsung naik pitam, tak biasanya anak panahnya mendurhakainya seperti itu. Dengan wajah yang kian garang, Sang Raja didampingi seluruh pengawal kembali mengejar rusa misteri tersebut, seraya sesekali melangkah menginjit-injit dibalik semak. Sialnya, setelah berjam-jam mengintai, buruan tersebut belum kunjung menampakan diri.

Berkat sabar, akhirnya Bagindo Ali berhasil memergoki rusa jantan yang dimaksud dekat tepian sebuah sungai, dan langsung membidik sembari menarik tali busur secara penuh. Ssstt, anak panah Sang Raja pun seketika bersarang persis di bagian leher si rusa.  Tak hayal, petualangan yang melelahkan itu dapat segera terbayarkan. Saking kesal, Bagindo Ali mengeluarkan pedang dari sarangnya, dan mencincang tubuh rusa misterius tersebut.

Guna membalas sakit hati, Sang Raja dengan sekuat tenaga melemparkan potongan paha rusa hasil buruannya itu arah ke bukit, hingga membuat leher bukit berlobang, dan tembus ke daerah sebelah.  Kebetulan tempat mendaratnya potongan paha rusa, dinamai Bukit Paha Rusa. Selanjutnya, peristiwa tersebut hingga sekarang secara turun-temurun terus melegenda di tengah-tengah masyarakat Nagari Maek, meski sesungguhnya kebenaran Bukik Posuak memang sulit diterima dengan logika. Bukit berlobang berdiametar sekitar 24 meter persegi itu dinamai Bukik Posuak, yang oleh masyarakat setempat cukup diyakini menyimpan misteri tersendiri.

About the Author

Leave a Reply

*